4 Tahun.

Lama tak jumpa di kota tempat ku dibesarkan, ku temukan berbagai macam memori yang tertinggal dikota tersebut. Saudara, sahabat,  guru serta rumah tipe 45 yang menemani hari-hariku. Ya, hari-hariku dimana ku dibesarkan, belajar, bermain, diomeli, tertawa, menangis dan bahagia. Guru-guru yang selalu membentakku karena masalah sepele (rambut) dan teman sepermainan yang selalu membuatku menangis ketika bermain bersama mereka.

Waktu berlalu dengan cepat, tak terasa 1 bulan lebih telah berlalu setelah di Yogyakarta dengan tujuan untuk masuk di Perguruan Tinggi impianku. Kini ku berada dipinggiran Ibu Kota, tak banyak kegiatan yang ku lakukan dikota ini padahal aku tahu bahwa waktuku terbatas, tidak selamanya aku berada dikota ini, salah satu hal yang kulakukan adalah bertemu dan mengulah tali silaturahim dengan kawan-kawan lama, tetangga dahulu dan juga seseorang yang sudah menganggap saya seperti saudara sendiri *thx bro!

Setelah menuntaskan rasa ‘kangen’ku kepada mereka semua, kini akhirnya kembali ku nikmati lagi setiap detik berhargaku ini saat bertemu dengan keluarga yang sudah 4 tahun tidak bertemu menjadikan setiap saat menjadi kenangan tersendiri yang tak dapat kulupakan. Setiap kata yang terucap, setiap gerakan yang kulakukan dan bahkan setiap detik ku nikmati saat sedang berkumpul dan setiap kegiatan yang ada. Walaupun gadged selalu berusaha berkata “Dan buka gue aja”. Alhamdulillah, saat ada acara keluarga, saya dapat menahan hal tersebut.

Walaupun pada saat pertama kali bertemu dengan keluarga disini dan tidak tahu harus mengucapkan apa yang harus saya katakan karena sudah lamanya tidak bertemu membuat saya canggung dengan keadaan sekitar. Hanya Om dan Tante yang selalu mengajak saya berbicara walaupun sudah tahu bahwa dialog yang keluar adalah antara “Gimana, papah sehat?” atau “Danny sekarang kuliah dimana?” ku jawab dengan semangat agar menjadi sebuah percapakan yang sederhana menjadi perkapan yang rumit. Dan hal yang sama kulakukan kepada beberapa Uda dan Uni (Bahasa Minang: Kakak) disini, saya saat bertemu bertanya “Dulu kuliah di dimana? Fakultas apa?” ternyata dengan pertanyaan yang sederhana itu membuat saya tahu dan berusaha untuk meng-“orek” ilmu dari mereka, hingga menjadi sebuah percakapan rutin yang saya lakukan saat bertemu dengan mereka.

Semakin semangat pula saya bertanya kepada mereka tentang hal-hal hingga tips and trick yang berkaitan seputar dunia pekerjaan yang notabene cari pekerjaan dikota besar itu sulit, mulai dari mengusahakan agar IPK selalu tinggi (nahlho?), attitude dan beberapa hal yang saya lupa. Hingga membangkitkan jiwa dan darah minang ini hidup kembali, setelah 4 tahun menjadi darah dayak, yaitu semangat menjadi pengusaha.

Banyak ilmu yang saya dapatkan dari mereka, bukan hanya WiFi Internet, makanan dan hal-hal dunia kerja. Uda dan Uni semua memberikan banyak ilmu kepada saya, mulai dari ilmu Ekonomi, Broadcasting, Online Shopping hingga Jasa.

Tak lupa dengan kemunculan 2 orang keponakan baru, yaitu Gavin dan Varo. Gavin yang masih lagi diumur hyperactivenya (4 tahun) dan Varo yang lagi masih diumur imutnya (11 bulan). Sebagai orang yang senang bermain dengan anak kecil (BUKAN PEDOFIL YAK!) tak butuh waktu lama untuk berkenalan dengan mereka ber-2, dari Gavin yang malu-malu kucing saat ketemu, sampe minta gendong (4 tahun minta gendong?) dan anterin kemana-mana saat ada kesempatan menginap dirumah Omi-nya. Dan Varo? Susah untuk dijelaskan, sampai saat  diumurnya yang masih imut-imut ini, dia masih man of the match :D

Tak lama lagi kembali ke Tanah Grogot, tempatku mendewasakan diri dari ½ Alay menjadi manusia normal, membawa sebuah kisah sederhana untuk kedua orang tua dan adikku disana dan kembali meninggalkan memori tak terlupakan tersebut.

 

4 Agustus 2014
Bekasi, Jawa Barat

 

Danny Rizky P

 

Ziarah Makam.
Ziarah Makam
Bisa dibilang foto keluarga
Man of the match dalam setiap acara keluarga. Varo.